Cerpen Painfull Love : Cerpen ini sudah kubuat dari tahun 2014, tepatnya 2 tahun lalu dan baru kesampaian untuk membuat blog, dan dipajang disini, biar.. gak ilang dan selalu diingat selalu.. hahahaaa #plakk #lebay...
So.... I hope you enjoy it.. <3
Painful Love
Kau tahu ini menyakitkan. Berapa kalikah kau harus berbohong padaku ? Kepada orang yang menyimpan sebuah perasaan untukmu. Diriku terbebani dengan semua ini. Hanya dengan mengikuti langkah kaki ku dapat berfikir...
“Aku belum punya pasangan, kok. Kenapa? Mau pacaran ?” Masih kuingat saat dia mengatakan hal itu seolah-olah tak merasa terbebani dalam hatinya. Wajahnya memalingkan wajahku. Menatap kearah rimbunan pohon kelapa yang sepertinya ingin tumbang itu. Lalu tatapannya hilang di tengah kabut. Saat itu dapat kulihat, tatapannya kosong. Hampa. Dia benar-benar angkuh. Seolah tak peduli dengan jawabanku selanjutnya.
Sunyi.....
Hembusan angin malam menyambut kami. Menghempaskan beberapa daun kering yang akhirnya terjatuh dan mendarat di kepala kami, mengiringi setiap langkah kami. Kurasa alampun menyutujui kebersamaan kami. Tanpa sadarpun ku mengangguk pelan, seraya menggenggam tanganmu yang dingin.
Sebelumnya tak pernah ku berfikir ini terjadi. Aku hanya mengaggap Ia sahabat, tak lebih. Ia bukanlah seorang yang harusnya menyukaiku. Ia keren, tampan, banyak gadis memimpikannya. Sedangkan aku hanyalah gadis ceroboh dan hanya setia menjadi sahabat, lebih tepat pesuruhnya saja. Bahkan akupun tak pernah menangkap matanya ketika Ia melirikku. Maka aku tak ingin tahu tentang perasaannya. Walaupun diriku begitu mencintainya, menyukainya dari sebelum hubungan persahabatan ini dimulai.
Seingatku, Ia pernah bercerita padaku kalau Ia baru putus dengan pacarnya. Pacar yang sangat Ia sayangi dan cintai. Seorang gadis yang lebih dahulu mendapatkan sepenuh hatinya. Seorang gadis yang berparas cantik dan sopan. Berbeda 360 derajat dengan aku....
Ya, aku sangat benci ketika Ia menceritakan segala hal yang Ia lakui dengan pacarnya itu. Apakah Ia tak membaca pikiranku saat itu, aku tak tahu. Ia memang lelaki misterius, aku yang sudah jadi sahabatnya tak terlalu dapat membaca pikirannya. Tapi ya sudahlah, semua itu sudah berlalu dan toh, sekarang akhirnya ku dapat menggenggam tanganmu dan menatap wajahmu lebih lama. Seperti yang kulakukan sekarang ini.....
*****
“Hei, Ran.. cie baru jadian sama Rangga. Minta traktirannya dong...” sapa riang teman dekatku, Lili namanya.Kurasa Ia cocok untuk dijadikan teman curhat. Tapi harus ditraktir dulu, yaaa seperti hari ini di kantin sekolah.
“Hahaha. Yaudah deh kapan-kapan ya gw nraktirnya”
“Yah dasar pelit lo. Eh, Rangga baru putus sama mantannya, kan? Gimana kalo lo di bohongin tuh sama si Rangga. Jangan-jangan dibuat pelarian lagi. Lagian kan Rangga itu populer, dan kemarin malam, sih aku malah ngeliat Rangga jalan berduaan sama cewek. Kayaknya...” aku memutus pembicaraan Lili.
“Ih apaan sih kamu, Li... Ya aku yakin ko Rangga bukan cowo yang kayak gitu. Dia kan baik.. udah ah ngomong sama lo. Pokonya Rangga tuh tetap yang terbaik” Aku mengucapkan itu seraya pergi meninggalkan Lili yang masih terdiam di bangku kantin. Saat itu aku menuju kelasku, herharap bisa menemukan Rangga. Ah, biasanya Ia suka berdiam diri di pojok ruangan kelas.
“Hei, Rin. Kamu habis dari kantin kok gak ngajak-ngajak...” hei itu suara Rangga. Sepertinya aku salah perkiraan. Ia ternyata sedang duduk di lorong ruangan, sendirian. Aku tersenyum.
“Hehe maaf Ga. Tadi aku lagi pengen sendiri...” sambil duduk disamping Rangga, cowok yang aku idamkan dari sejak lama. Aku memiringkan kepalaku agar dapat bersender di bahunya. Tak ingin Rangga-ku ini dimiliki siapa-siapa selain aku. Teringat aku akan omongan Lili tadi. Dia adalah perempuan yang memang ‘asal ngomong’ istilahnya. Tapi yang dia katakan selalu benar. Haruskah aku percaya...
“Hmm.. Rang, kamu cuma sayang sama aku, kan? Ga ada yang lain?”
“Hah? Apa? Umm, hei, udah ada bel masuk nih. Mendingan kamu masuk ke kelas, deh.”. Sepertinya dia kaget aku menanyakan begitu
“Ah, tapi, jawabannya?” Sepertinya aku mulai agak aneh dengan tingkah dia.
“ Nanti aja sayang, ini kan masih di sekolah. Udah ah aku masuk kelas dulu, bye...” Lambaian tangan yang hanya aku lihat dari akhir langkahnya menuju kelas. Aku mulai ragu. Ingin aku mempercayai Lili tetapi aku sudah terlanjur meninggalkannya di kantin tadi. Huh, Lili pasti marah denganku.
*****
Trrt.. Trrt....
“Huh.. sudah jam berapa ini, Siapa yang sms sih ganggu aku tidur aaja” eluhku.
Kulihat 5 sms masuk ke handphoneku dengan nomor yang sama. Siapakah ini? Apakah sebegitu daruratnya sehingga harus berkali-kali meng-sms ku?. Aku langsung melihat isi pesan terakhir yang tertulis. “Eh Ran, pliss lo bales sms ini. Pentiiing.. >w< ”. pesan ke empat dan seterusnya juga sama. Tetapi pesan yang awal tertulis “Rangga selingkuh Ran. Coba lo dateng ke restauran faclub. Pliss lo harus percayain gw. Dateng kesana dan lihat sendiri” Ih siapa sih, sepertinya aku memang mengenal nomor ini sebelumnya. Memang, sih. Aku agak sedikit ragu dengan tingkah laku Rangga padaku. Tetapi, aku benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi. Hatiku mendadak pilu. Tak ingin kenyataan pahit ini datang begitu saja kepadaku.
Kakiku pun melaju ke restauran faclub, tempat yang disebutkan dari nomor yang tak dikenal tersebut. Pikiranku sungguh kacau. Hal yang positive dan negative seperti bertarung dalam pikiranku yang membuat diriku menjadi pusing. Antara takut jikalau Rangga memang selingkuh ataukah aku hanya ditipu oleh orang yang tak dikenal ini, entahlah....
***
“Rang, apa-apaan kamu !!” akupun berteriak kesal dari pintu masuk, dan segera menuju ke arah Rangga yang sedang merangkul seorang perempuan yang cantik dengan menunjukkan sikap romantisnya ke perempuan tersebut yang Ia tak pernah menunjukannya padaku. Sungguh seperti diterpa badai diriku ini. Pikiranku hanya melayang dan yang bergerak hanya tanganku yang mencoba melepaskan rangkulan Rangga dari seorang perempuan tersebut, itulah mantannya!
“Eh Ran kamu yang apa-apaan masuk masuk langsung ngajak ribut gimana sih, malu-maluin aja tau nggak kamu, gatau diri..” Teriak Rangga, akupun segera menjauhkan perempuan itu dari dekapan Rangga.
“Oh, gitu ya. Sekarang siapa yang gatau diri, hah?” tanpa dapat kutahan lagi air mata terjatuh sampai ke ujung dagu. Lalu menetes. Tak henti-hentinya...
“Aduh, Ran, iyadeh iya, aku minta maaf. Ayo keluar dulu deeh. Kita selesain masalahnya baik baik yah” sambil melirik mantannya itu, Ia mengajakku keluar. Gadis itu, kulihat tetap berdiri didalam restaurant.
“Jadi apa yang mau kamu akuin, hah? kenapa kamu jalan terus sama mantan kamu itu!”
“Ran, kamu sahabat aku, dan dari awal aku udah tau kalo kamu sebenernya suka sama aku. Umm.. dan aku gaenak aja sama perasaan kamu” wajahnya kelihatan linglung. Ia tidak menunjukkan sikap bersalahnya. Benar-benar kejam.
“Jadi kamu macarin aku tuh cuma karena gaenak sama aku, gaenak karena aku sahabat kamu?” Air mataku mengujur lebih deras dari yang sebelumnya. Aku melanjutkan.
“Kalo gitu ngapain kamu pacarin aku kalo tanpa perasaan!”
*Blash..
Aku berlari, menjauh.
Meninggalkan mereka....
*****
Seharusnya aku tau. Seharusnya aku menyadari kau selalu memancarkan warna kebohongan dari dalam dirimu. Ini bukanlah kau. Kau.. kau hanya bersembunyi di balik topeng. Sebuah topeng yang dapat membohongi segalanya. Termasuk perasaanmu, terhadapku. Dari sebelumnya harusnyapun aku tahu. Kalau kau masih mencintainya, mendambanya. Mataku menatap lirih pada Lili.
“Thanks ya Li, ternyata yang ngirim pesan itu elo. Sekarang tingalin gw sendiri yah dikamar, gw mau ngelupain semua masalah gw sendirian” Lili mengangguk. Mengelus-elus rambutku yang berantakan. Aku hanya mendengar langkah kaki Lili menjauh dari tempat tidurku, menuju ke arah pintu. Meninggalkan aku sendiri yang berupaya memberhentikan tangisanku.